Hikayat Pelanduk Jenaka, disunting oleh Ahmad Murad Nassruddin, Malaya Publishing House Limited, Singapura (1955) dalam Permata Sastera Melayu (2012)
Pada suatu hari Tuan Syeikh Alam di-Rimba bertitah kepada segala isi rimba itu katanya, "Hai tuan-tuan sekalian, muafakatlah tuan-tuan, jangan aniaya menganiaya antara suatu dengan lain dan janganlah elat dan dengki dan janganlah berbuat fitnah kerana di dalam firasatku akan datang bala dan huru-hara menimpa tuan-tuan. Jikalau ada sesuatu perkara berlaku atas tuan-tuan, hendaklah segera beri tahu hamba. Dan lagi hendaklah tuan-tuan sekalian tujuh hari sekali datang kepada hamba dan bawa buah-buahan yang baik dan taruk kayu yang muda-muda jadi tanda kita bersahabat pada zahir dan batin. Janganlah tuan-tuan sekalian lupa akan pesanan hamba ini."
Maka sembah segala isi rimba itu, "Baiklah tuanku, mana titah tuanku patik sekalian junjung."
Maka segala isi rimba itu pun masing-masing menundukkan kepalanya ke tanah memberi hormat kepada Tuan Syeikh Alam di-Rimba kernudian kembali ke tempat masing-masing; yang tinggal menunggu Tuan Syeikh Alam di-Rimba itu ialah kawan harimau dan kawan kambing dan Raja Singa.
Al-kisah maka tersebutlah perkataan badak, kerbau, seladang, rusa, kijang, siamang dan ungka hendak mengambil ikan di dalam Sungai Tinam. Ada pun sungai itu pasirnya terlalu putih dan terlalu sekali banyak ikan di dalamnya. Maka belumlah ada seorang manusia pun yang sampai ke sungai itu. Ada seorang raksasa yang menunggu sungai itu; badannya besar serta dengan tingginya hingga menakutkan hati orang yang melihat dia.
Pada suatu hari, seekor kijang telah pergi bermain main sambil mencari mangsanya. Maka ia pun sampailah di tepi sungai itu. Dilihatnya sungai itu terlalu dalam, ikan pun banyak. la pun berfikir di dalam hatinya katanya, "Baiklah segera aku pulang memberi tahu sekalian sahabatku." Setelah itu maka ia pun pulanglah memberi tahu sahabat-sahabatnya sekalian katanya, "Hai saudaraku sekalian, marilah kita pergi bermain-main di tepi sebuah sungai. Sangatlah ajaib sekali hamba melihat sungai itu terlalu cantik rupanya serta dengan sangat banyak ikan di dalamnya.; belumlah ada siapa-siapa yang telah sampai ke sungai itu."
Maka kata Sang Badak dan Sang Kerbau serta dengan sahabatnya yang lain-lain, "Tiadalah hamba sekalian ini mendengar khabar itu.
Ujar Sang Kijang, "Pada suatu hari hamba pergi bermain-main ke sebelah gunung itu pada matahari hidup, hamba nampak sebuah sungai, pasirnya putih dan pantainya pun elok. Pada fikiran hamba itulah sungainya yang dikatakan orang dahulu kala bernama Sungai Tinam itu iaitu tempat Raja Sulaiman bermain-main dengan segala raja-raja dan memukat ikan. "
Kata Sang Badak dan Sang Kerbau, "Kalau demikian marilah kita pergi bermain-main ke Sungai Tinam itu dan mengambil ikan."
Apabila didengar oleh seladang serta segala isi rimba akan kata Sang Badak dan Sang Kerbau hendak pergi mengambil ikan ke Sungai Tinam itu, maka sekaliannya pun hendak pergi bersama-sama. Dengan tiada tertangguh lagi sekalian binatang-binatang itu pun bertolaklah ke Sungai Tinam itu. Setelah sampai, Sang Badak dan Sang Kerbau dan sekalian kawan-kawan semuanya pun terlalu hairan melihat ikan di sungai tidak terpermanai lagi banyaknya.
Kata Sang Kijang, "Hai saudaraku sekalian, marilah kita mengambil ikan ini.”
Jawab sahabatnya sekalian, ”Baiklah, tetapi janganlah kita membuat perhentian di sini kerana ini tempat Raja Sulaiman. Kalau hendak membuat tempat perhentian marilah kita pergi ke hulu sungai ini."
Maka segala isi rimba itu pun pergilah ke hulu sungai itu berbuat tempat perhentian. Setelah beberapa lamanya maka tempat itu pun siaplah. Kata Sang Badak, "Marilah kita pergi mengambil ikan hai saudaraku sekalian, sementara hari masih pagi lagi.”
Maka sekaliannya pun pergilah mengambil ikan tertalu banyak dapatnya. Kata Sang Badak, “Baiklah kita kembali dahulu menghantar ikan ini, lagi pun perut kita sudah mulai lapar.”
Setelah itu maka masing-masing pun pulanglah dengan sukacitanya. Serta sampai, dibubuhkan mereka ikan itu pada suatu tempat. Kata Sang Kijang bertanya, “Siapa patut menunggu ikan kita ini supaya kita boleh pergi mengambil lagi?”
Sahut Sang Beruang, “Biarlah hamba menunggunya.”
Kata Sang Kijang, “Hai Sang Beruang, dahulu ada aku mendengar khabar kononya yang menunggu sungai ini ialah seorang raksasa yang terlalu besar dan tinggi orangnya serta dengan hebatnya kelihatan rupanya. Jikalau ia datang, bolehkah engkau melawan dia?”
Maka jawab Sang Beruang, “Hai saudaraku, engkau lihatlah temasyanya; hambalah akan melawan dia. Hamba akan pijakkan dia dan pecahkan kedua-dua belah matanya.”
Setelah didengar oleh segala isi rimba akan cakap Sang Beruang itu, mereka pun sukalah dan pergi pula mengambil ikan lagi, tinggal sang Beruang sahaja menunggu ikan tadi.
Tiada berapa lama setelah binatang-binatang itu pergi maka datanglah seorang raksasa. Dilihatnya Sang Beruang sedang menunggu ikan yang bertimbun-timbun itu. Kata raksasa itu, “Hai berunag, minta aku ikan engkau kerana perutku sangat lapar.”
Maka Sang Beruang pun terkejutlah apabila mendengar suara raksasa itu. Maka ia pun menoleh ke belakang dilihatnya asa seorang raksasa yang sangat besar serta dengan tingginya. Matanya merah dan bulunya perang dan terlalu sangat dasyat kelihatan rupanya itu.
Sang Beruang pun berfikir, “Jikalau demikian rupanya, aku pun tentulah dimakannya juga. Oleh itu baiklah aku lari.”
Kemudian Sang Beruang pun larilah melompat lintang pukang dan kepalanya terhantar ke kiri ke kanan dan telinganya rabit-rabit, tidak terasa olehnya, kerana pada sangkaannya ia telah diterkam oleh raksasa itu.
Sambal berlari itu ia pun menoleh ke belakang dilihatnya tidaklaj ia diusir lagi oleh raksasa itu. Kemudian ia pun berjalanlah kembali ke tempat ikan bertimbun itu. Dilihatnya raksasa itu sedang makan ikan itu. Setelah habis ikan itu dimakannya ia pun melihat ke kiri ke kanan. Dilihatnnya Sang Beruang sedang menghadap kepdanya. Kata raksasa, “Hai Sang Beruang, mengapa engkau takutkan aku? Aku tak akan makan engkau kerana perutku sudah kenyang. Ambillah ikan di sungai itu banyak-banyak dan beri kepada aku supaya aku kasih akan engkau dan tidak makan engkau kerana perutku tentu sahaja sentiasa kenyang.”
Maka jawab Sang Beruang, “Baiklah tuan hamba, pada besok hari haraplah hamba akan menemui tuan hamba.” Telah itu maka raksasa itupun kembalilah ke tempatnya dan Sang Beruang pergi melihat kalau-kalau ada lagi ikan di situ. Dilihatnya tiada seekor pun yang tinggal; semuanya habis dimakan oleh raksasa itu. Kata Sang Beruang, “Hai si kutuk, si jahanam, habis ikanku dimakannya dan seekor pun tidak tinggal lagi.”
Maka hari pun hampirlah petang dan Sang Badak dengan segala isi rimba itu pun pulanglah membawa ikan terlalu banyak, “Hai Sang Beruang, ke mana perginya ikan kita ini?”
Jawab Sang Beruang. “Janganlah banyak-banyak kata tuan-tuan sekalian, aku pun sedikit lagi dimakan oleh raksasa jahanam itu.”
Maka kata Sang Badak, “Adakah patut ikan sebanyak itu engkau berikan kepada raksasa itu?”
Ujar Sang Seladang pula, “Siapa yang cekap menunggu ikan kita ini, melainkan aku! Jikalau datang raksaasa itu nescaya pecahlah perutmya aku pijakkan sehingga berhamburan keluar tahinya,” serta ia melompat ke kiri dan ke kanan membongkarkan tanah di situ kemudian katanya lagi, “Beginilah gayanya aku akan menanduk raksasa itu.”
Maka jawab segala rimba itu, “Baiklah jika boleh tuan hamba lawanlah raksasa itu.”
Pada keesokan harinya maka segala isi rimba itu pun pergilah pula menangkap ikan. Apabila dapat dibawanya kapada Sang Seladang disuruhnya bakar.
Seketika lamanya maka raksasa itu pun datanglah perlahan-lahan dari belakang Sang Seladang seraya berkata, “Hai seladang, mintalah aku ikan-ikanmu itu.”
Apabila mendengar suara raksasa itu maka seladang pun terkejutlah lalu terjun lari lintang pukang ke sana ke mari dengan tiada bersemangat, kemudian melompat masuk ke dalam hutan sambil terlanggar kepada pohon kayu hingga bengkaklah kepalanya, dan rabit-rabit telinganya. Pada sangkaannya ia telah diterkam oleh raksasa itu. Apabila ia menoleh ke belakang dan melihat raksasa itu tiada mengejar dia lagi ia pun berhentilah.
Lepas sebentar ia pun teringatlah akan ikannya itu dan baliklah perlahan-lahan ke tempat itu. Sambil melindungkan dirinya pada sesuatu batang kayu, dilihatnya raksasa itu masih ada di situ dan sedang makan ikan itu.
Setelah habis ikan itu di makan oleh raksasa itu, maka ia pun memandang ke kiri dan ke kanan. Dilihatnya seladang itu sedang bersembunyi di balik pohon kayu itu. Kata raksasa pada seladang itu, “Datanglah ke mari, jangan takut padaku kerana perutku ini sudah kenyang makan ikan. Esok hari hendaklah engkau mengambil ikan banyak-banyak kerana aku hendak datang pula memakannya.”
Maka jawab Sang Seladang dengan takut rupanya, “Baiklah tuan hamba,” tetapi di dalam hatinya ia berkata, “Moga-moga disambar petirlah engkau, si kutuk!”
Maka hari pun hampirlah malam. Segala isi rimba pun baliklah dengan membawa ikan terlalu banyak bahkan lebih banyak daripada yang dahulu itu. Serta sampai di tempat perhentian itu dilihat mereka ikan mereka yang dahulu itu tiada lagi di situ. Sang Badak pun berkata, “Hai nescaya tidaklah bertemu lagi dengan tuan-tuan sekalian.”
Kata Sang Badak, “Lemah sangat rupanya tuan hamba ini tiada dapat melawan raksasa itu; apatah kuatnya itu?”
Jawab Sang Seladang, “Jikalau demikian baiklah esok gari barang siapa yang kuat dan gagah berani, cubalah lawan dengan dia; aku hendak melihat temasyanya,”
Maka kata harimau, “Akulah yang boleh melawan raksasa itu. Juka dilihatnya aku yang menunggu ikan itu tentulah tidak berani ia datang memakannya.”
Apanila didengar demikian oleh segala kawan-kawannya, sukalah hati mereka. Setelah keesokan harinya maka kata seladang kepada harimau itu, “Tuan hamba memang masyhur fasal gagah perkasa; oleh itu janganlah kiranya tuan hamba mungkirkan kata tuan hamba itu.”
Seteah itu segala isi rimba pun pergilah pula mengambil ikan, tinggal Sang Harimau pula yang menunggu ikan bertimbun-timbun itu. Maka kata raksasa, “Hai harimau, mintalah aku ikanmu itu?”
Maka harimau itu pun terkejut lalu lari. Sangkanya ia hendak diterkam oleh raksasa itu, sambil ia berkata dalam hatinya, “Sungguhlah saperti kata seladang itu, tubuhnya besar panjang dan matanya merah saperti api bernyala rupanya. Baiklah aku cepat lari; jikalau tidak nescaya matilah aku dimakan oleh si kutuk ini.”
Maka ikan itu pun habislah dimakan oleh raksasa itu. Setelah itu ia pun kembalilah ke tempatnya. Segala isi rimba ytang telah pergi mengambil ikan itu pun pulanglah dengan membawa ikan yang terlalu banyak. Serta sampai dilihat mereka seekor pun ikan mereka tiada lagi. Kata badak, “Manakah ikan kita ini, hai saudaraku Sang Harimau?”
Jawab harimau, “Sungguhlah seperti kata tuan-tuan sekalian. Ikan kita ni habis dimakan oleh raksasa itu. Kalau demikian apa faedahnya kita mencari ikan lagi tidak boleh kita makan, dan kita hendak membawakan anak isteri kita sendiri pun tidak boleh. Jikalau demikian berpindahlah kita ke tempat lain yang tiada diketahui oleh raksasa itu.
Apabila didengar oleh badak akan perkataan Sang Harimau itu maka ia pun bertempik katanya, “Akulah yang dapat melawan raksasa pencuri dan penytamun haram zadah itu.”
Maka sahut segala sahabat handai dan taulannya itu, “Baiklah, jika sanggup tuan hamba melawan raksasa itu, lawanlah. Bukan badan kami yang akan merasai sakit atau nyawa kami yang akan hilang melainkan badan dan nyawa tuan hamba sendiri.”
Maka sahut Sang Badak, “Mengapakah tuan-tuan sekalian berkata demikian, tidakkah tuan percayakan hamba ini?” serta ia bertempik serta melompat terkam menerkam, terlalu bahana bunyinya, “Beginilah hamba akan perbuat kepada raksasa pencuri itu.”
Maka kata segala sahabatnya, “Baiklah. Jikalau sungguh tuan hamba hendak melawan dia esok harilah.”
Pada keesokan harinya, maka segala isi rimba itu pun pergilah pula mengambil ikan, tinggal Sang Badak menunggu ikan sambil meniup api. Apabila melihat asap api maka raksasa itupun datanglah pula perlahan-lahan dari belakang Sang Badak dan berseru katanya, “Hai Sang Badak, mintalah aku ikanmu itu.”
Apabila didengar oleh Sang Badak akan suara raksasa itu, maka ia pun menoleh ke belakang, dilihatnya iaitu raksasa dengan besar panjangnya. Pada sangkaannya raksasa itu hendak menerkam dia lalu ia pun melompat dan terlanggar kapada pondoknya itu habis roboh-roboh, kemudian lari pula lintang pukang dan jatuh bangun hingga pecah-pecah badannya berhamburan keluar darah tidak dirasainya. Ia lari juga. Setelah beberapa lamanya lari itu, ia pun berhentilah seraya melihat ke belakang. Rupanya raksasa itu tiada mengejar dia. Maka katanya, “Nyarislah aku mati dimakan oleh si kutuk jahanam itu; terlalu dahsyat rupanya; patutlah kawan-kawanku yang menunggu ikan itu memberikan dia kesemuanya.”
Setelah itu maka Sang Badak pun datang balik ke tempat ia menunggu ikan tadi. Dilihatnya raksasa itu sedang memakan ikan. Sang Badak pun berkata dari jauh, “Hai bedebah, makanlah ikanku itu. Engkau sangat menganiayai kami sekalian dan berani datang ke mari. Jikalau engkau sungguh kuat datanglah,” lalu ditendangkannya tanah yang tinggi-tinggi itu hingga menjadi rata kemudian katanya lagi, “Ke marilah jika berani nanti aku pijakkan engkau hingga keluar tahi.”
Apabila mendengar perkataan Sang Badak itu maka raksasa itu pun menoleh ke belakang. Apatah lagi Sang Badak pun terkejutlah pula. Sangkanya raksasa itu hendak mengusir dia. Ia pun lari pula tiada berketahuan hingga banyaklah pokok-pokok kayu yang tumbang ditempuhnya, dan luka-luka mukanya serta rabit-rabit telinganya oleh onak. Sambil berlari itu ia pun bertemulah dengan seekor kera.
Maka kata Sang Kera, “Gilakah engkau ini berlari dengan tiada suatu sebab pun.” Mendengar demikian Sang Badak pun berhentilah. Sang Kera pun datang mendapatkan Sang Badak itu. Dilihat oleh Sang Kera badan Sang Badak itu habis luka-luka berlumur dengan darah.
Oleh itu ia pun bertanyalah katanya, “Apa sebabnya tubuh tuan hamba ini luka-luka dan berlumur dengan darah?”
Jawab Sang Badak, “Hai Sang Kera, tadi aku telah berlawan dengan raksasa yang terlalu sangat besar dan panjang orangnya. Kemudian datang pula kawannya menolong akan dia. Oleh sebab hamba sangat gagah dan perkasa serta berani, dua orang itu hamba hempaskan ke kanan dan ke kiri rebah terpelanting. Pada fikiran hamba banyak lagi kawan-kawannya akan datang, maka hamba pun berfikir, ‘Baiklah aku lari melepaskan diriku.”
Maka kata Sang Kera bertanya, “Sekarang di mana adanya raksasa itu?”
Jawab Sang Badak, “Hamba tinggalkan dia di Sungai Tinam itu.”
Sang Kera pun berfikir, “Betapakah Sang Badak ini dapat melawan raksasa yang sangat besar dan lebih kuat daripada sekalian isi rimba itu? Tetapi hendak dikatakan dia bohong pun tidak boleh kerana tubuhnya itu luka-luka dan hidungnya pun berdarah.”
Tersebutlah perkataan raksasa makan itu. Setelah memandang ke kiri dan ke kanan, dan melihat Sang Badak itu tiada lagi, maka ia pun pulanglah ke tempatnya. Hari pun hampirlah tengah hari dan segala isi rimba pun kembalilah membawa ikan terlalu banyak. Serta sampai maka dilihat mereka Sang Badak itu tiada di situ dan seekor ikan pun tiada lagi
Kata Sang Harimau, “Bohongkah kataku? Itulah rasanya orang yang tidak mahu menurut bicara yang baik dan hendak juga menunjukkan kekuatan yang gagah beraninya pada segala isi rimba ini. Pada fikiranku jangan melawan raksasa itu, melihat rupanya pun kita lari.”
Maka sahut segala isi rimba, “Sebenarnyalah seperti kata tuan hamba itu.”
Kata Seladang, “Hai anak saudaraku sekalian, apa bicara kita sekarang, kita tidak tahu adakah Sang badak itu masih hidup atau mati.”
Jawab Sang Harimau, “Jikalau demikian hambalah akan mencari dia supaya tentu hidup matinya.”
Maka sahut segala sehabatnya itu, “Baiklah; jikalau tuan hamba cakap mencari taulan itu elok sangatlah.”
Telah muafakatlah sekaliannya itu, maka Sang Harimau pun pergilah mencari Sang Badak masuk hutan keluar hutan.akhirnya ia pun berjumpalah jalan Sang Badak itu lari dan bertemu dengan kayu yang telah ditempuh oleh Sang Badak ketika ia lari itu hingga habis terbongkar kesemuanya.
Kata Sang Harimau di dalam hatinya, “Rasalah olehmu hai Sang Badak yang tiada percayakan cakap aku dahulu.”
Kemudian bertemulah Sang Harimau dengan seekor burung sedang bersyair di atas sepohon kayu. Kata Sang Harimau bertanya, “Hai burung, adakah engkau nampak Sang Badak lalu di sini?”
Maka jawab burung itu, “Ada aku Nampak Sang Badak itu lari seperti orang gila lakunya terlanggar ke sana ke mari, tiada berketahuan. Belakangnya aku lihat habis luka-luka, hidungnya berlumur dengan darah dan telinganya pun rabit-rabit dikait oleh onak.”
Setelah itu maka Sang Harimau pun berjalanlah pula. Akhirnya bertemulah ia dengan Sang Badak sedang berguling di tanah tiada khabarkan dirinya. Maka dihampirlah oleh harimau itu, serta bertanya katanya, “Hai Sang badak, mengapa engkau berguling-guling di sini? Ikan-ikan kita di mana engkau taruhkan?”
Setelah didengar oleh Sang Badak kata Sang Harimau demikian itu, maka ia pun menyahut, “Hai Sang Harimau, apa guna tanyakan itu? Lihatlah badanku ini habis luka-luka dicakar oleh raksasa itu.”
Maka kata Sang Harimau, “Sebenarnya kata tuan hamba itu, dan hamba pun ada juga mendengar khabarnya hal tuan hamba itu dipuji oleh raksasa katanya, “Hingga sakit-sakit ku bercakar-cakar dengan Sang Badak.’”
Setelah Sang Badak mendengar Sang Harimau menggiat dia itu, maka ia pun tunduk kemalu-maluan tidak berkata apa-apa lagi. Kata Sang Harimau kepada Sang Badak, “Hai saudaraku, marilah kita pulangkan kerana kawan-kawan kita sekalian sangat walang hatinya kepada tuan hamba. Raksasa itu pun telah pulang ke tempatnya serta sakit perutnya oleh banyak makan ikan itu.
Kemudian Sang Badak dan Sang Harimau pun kembalilah. Serta sampai kepada seladang dan segala sahabatnya itu, maka kata seladang kepada Sang Badak, “Hai saudaraku, mengapa badan tuan hamba ini luka-luka hamba lihat?”
Jawab Sang Badak, “Apabila raksasa itu datang ia berseru katanya, ‘Hai Sang Badak, berilah aku ikanmu itu!’ Kata hamba, ‘Aku tiada ikan yang hendak kuberikan kapada kamu.’ Mendengar demikian ia pun menerkam hamba dan hamba pun lawanlah dia. Dicakar-cakarnya badan hamba dengan kukunya yang tajam itu. Seketika lagi datang kawannya menolong dia. Oleh itu tak tahanlah hamba lagi lalu hamba pun larilah. Jika hamba berlawan dengan dia seorang sahaja tidaklah hamba lari barang setapak jua pun. Itulah sebabnya hamba lambat kembali.”
Maka fikir segala isi rimba itu, “Alangkah dustanya badak ini! Tubuhnya dikait oleh onak dan duri, katanya dicakar oleh raksasa.”
Setelah itu, maka sekalian pun berjalanlah pulang dengan membawa ikan terlalu banyak. Sambil berjalan itu bermesyuaratlah mereka akan hal raksasa yang terlalu aniaya itu dan bagaimana membinasakan dia.
Kata seladang, “Aku ada mendengar khabar kononnya ada seekor pelanduk jenaka yang terlalu cerdik dan kuat. Ia beroleh kekuatan itu daripada baginda Ali.”
Maka sahut segala sahabatnya itu, “Jika demikian baiklah kita pergi menghadap pelanduk itu.”
Maka sekaliannya pun berjalanlah menuju matahari hidup. Setelah beberapa lamanya berjalan itu, mereka pun sampailah ke tempat Tuan Syeikh Alam di-Rimba. Tuan Syeikh Alam di-Rimba itu telah nampak mereka datang itu dan pura-pura menengadah ke langit kemudian tunduk ke bumi seraya berkata kepada pengiring-pengiringnya, “Hai tuan-tuan sekalian, pada perasaanku segala isi rimba akan datang hendak mengadukan suatu hal.”
Maka bertanya mereka, “Bilakah mereka akan datang tuanku?”
Jawab Tuan Syeikh alam di-Rimba, “Pada fikiran hamba mereka telah hampir sampai ke mari. “
Sesaat lagi, Sang Badak pun datanglah bersama-sama dengan segala isi rimba menghadap Tuan Syeikh Alam di-Rimba katanya, “Hai saudaraku sekalian, apakah pekerjaan tuan-tuan sekalian datang kapada hamba ini?”
Jawab segala isi rimba itu, “Ya tuanku Tuan Syeikh Alam di-Rimba, ada pun maksud patik datang ini hendak mengadu bahawa hamba sekalian telah dianiayai oleh raksasa yang menunggui Sungai Tinam itu. Pada suatu hari hamba sekalian pergi mengambil ikan tetapi semuanya telah dirampas oleh raksasa itu. “
Titah Tuan Syeikh Alam di-Rimba, “Hai saudaraku sekalian, jika demikian hambalah akan melawan raksasa itu,” kemudian dia memandang kapada Sang Badak seraya berkata, “Hai saudaraku apa juga sebabnya maka badan tuan hambaku itu luka-luka dan comot-comot dengan tanah?”
Maka sembah Sang Badak, “Ya tuanku, itulah halnya perbuatan raksasa itu.”
Kata Tuan Syeikh Alam di-Rimba, “Sayang badan baik-baik menjadi luka tetapi fikiranku iaitu bukanlah perbuatan raksasa melainkan dikait onak. Baiklah, tujuh hari lagi aku akan pergi menangkap raksasa itu.”
Setelah Sang Badak mendengar titah Tuan Syeikh Alam di-Rimba, tiadalah terkata-kata lagi malunya di hadapan segala isi rimba itu. Maka kata segala sahabat Sang Badak, “Sangat terus penglihatan Tuan Syeikh Alam di-Rimba itu. Rupanya Sang Badak itu berdusta kepada kita sekalian.” Maka Sang Badak pun tunduklah kemalu-maluan, tiada memandang ke kiri dan ke kanan.
Kemudian ia pun mengangkat mukanya sambil berkata dengan marah bunyinya, “Jikalau engkau sekalian berani mengapatah engkau pun lari jua lintang pukang? Mengapa tiada engkau melawan benar-benar seterumu itu? Bukannya aku sahaja yang diberikan malu oleh Tuan Syeikh Alam di-Rimba itu tetapi engkau sekalian pun patut berasa malu juga.”
Setelah didengar oleh Tuan Syeikh Alam di-Rimba akan perkataan badak itu maka baginda pun tersenyum seraya katanya, “Hai tuan-tuan sekalian, janganlah berbantah-bantahan sama sendiri akan hal raksasa itu; atas hambalah menangkap dia.”
Maka segala isi rimba itu pun menyembah serta katanya, “Baiklah tuanku, jikalau demikian bebrapa hari lagi tuanku akan berangkat?”
Jawab Tuan Syeikh Alam di-Rimba, “Lagi tujuh hari hamba akan berjalan.”
Maka sembah segala isi rimba, “Baiklah, tuanku. Patik sekalian menantikan titah tuanku juga.”
Apabila sampai tujuh hari dan pada ketika yang baik, maka kata Tuan Syeikh Alam di-Rimba, “Hai saudaraku sekalian, pada hari inilah kita hendaklah berjalan mendapatkan raksasa itu.”
Sembah Raja Singa serta sekalian isi rimba itu, “Patik sekalian sudahlah hadir, tuanku, hanya menantikan tuanku memberi perintah bertolak sahaja.”
Setelah itu maka Tuan Syeikh Alam itu pun naiklah kenaikannya iaitu seladang putih, lalu berjalan, menuju ke Sungai Tinam tempat raksasa itu. Setelah beberapa lamanya berjalan itu, maka sekalian itu pun sampailah ke sungai itu. Tuan Syeikh Alam di-Rimba pun bertitah katanya, “Hai tuan-tuan sekalian, ambilkan aku rotan hendakku perbuat simpai.”
Maka segala isi rimba pun pergilah mencari rotan. Setelah dapat dibawanyalah kepada Tuan Syeikh Alam di-Rimba. Maka baginda pun berkata, “Hai saudaraku sekalian, marilah kita pergi mengambil ikan pada Sungai Tinam itu.
Maka segala isi rimba pun pergilah mengambil ikan. Terlalu banyak ikan yang ditangkap mereka. Setelah itu maka sekalian pun kembalilah ke pondok yang roboh dilanggar oleh Sang Badak itu. Pada keesokan harinya, maka kata Tuan Syeikh Alam di-Rimba, “Hai tuan-tuan sekalian, pergilah bersembunyi jauh-jauh dari sini. Apabila mendengar suara hamba bertempik, hendaklah tuan-tuan sekalian segera datang.”
Setelah itu maka segala isi rimba pun pergilah bersembunyi dan Tuan Syeikh Alam duduk menghidupkan api hendak membakar ikan. Sesaat lagi kelihatanlah asap api itu kapada raksasa. Maka ia pun segeralah datang perlahan-lahan, dilihatnya ada seekor pelanduk sedang meniup api. Maka kata raksasa itu, “Hai pelanduk, apa engkau buat itu?”
Jawab pelanduk, “Aku hendak menyimpai tubuhku ini kerana sakit. Inilah ubatnya, penat mengambil ikan. Tuan hamba ini hendak ke mana?”
Jawab raksasa itu, “Aku datang ke mari hendak meminta ikan padamu.”
Kata Tuan Syeikh Alam, “Baiklah, apatah salahnya, dan mengapa tuan hamba lambat-lambat berjalan itu?”
Sahut raksasa itu, “Tubuhku pun sakit juga. Bolehkah aku minta ubat kepadamu?”
Jawab Tuan Syeikh Alam, “Ada pun ubat hamba ialah simpai ini. Inilah ubat pesaka daripada datuk nenek moyang hamba sampailah sekarang ini.”
Maka kata raksasa itu, “Mintalah aku ikan itu kerana perutku sangat lapar.”
Jawab Tuan Syeikh alam di-Rimba, “Tidaklah baik tuan hamba makan ikan itu jika belum lagi tuan hamba berubat.”
Maka berkenan pada hati raksasa itu mendengarkannya. Kata Tuan Syeikh Alam di-Rimba lagi, “Marilah tuan hamba cuba-cuba dahulu, tetapi jangan tuan hamba putuskan simpai ini kalau-kalau rosak ubat hamba.”
Maka kata raksasa itu, “Tiadalah aku melalui barang katamu; baiklah engkau masukkanlah sendiri.”
Maka Tuan Syeikh Alam di-Rimba pun memasukkanlah simpai itu pada siku dan lutut gergasi itu. Setelah sudah, dimasukkannya sekali lagi segala simpai itu, sehingga tiadalah dapat raksasa itu bergerak lagi oleh sangat sesaknya itu. Kemudian Tuan Syeikh Alam di-Rimba pun berkata, “Hai raksasa cubalah putuskan simpai ini supaya baik dan pulih semula tubuh tuan hamba seperti dahulu dengan berkat wali Allah yang keramat dan baginda Ali dan supaya beroleh gagah perkasa tuan hamba seperti masa muda dulu.”
Maka raksasa itu pun cuba bergerak tetapi tiada boleh lagi dan dicubanya hendak memutuskan simpai itu tidak juga putus. Kata Tuan Syeikh Alam di-Rimba, “Hai raksasa, baiklah sudah tubuh tuan hamba itu kena ubat hamba.”
Raksasa itu pun tergulinglah di tanah tiada boleh bergerak lagi. Kata Tuan Syeikh Alam di-Rimba itu satu lagi, “Diam-diamlah tuan hamba dahulu supaya boleh hamba bubuh ubat pada kepala tuan hamba.”
Maka raksasa itupun diamlah. Tuan Syeikh Alam di-Rimba merenungkan muka raksasa itu, kemudian dicakarnya mata raksasa itu dengan taringnya hingga pecahlah mata itu. Kemudian ia pun bertempiklah. Maka suaranya itu kedengaranlah kepada segala isi rimba itu. Maka sekalian pun datanglah berkejar-kejar. Serta sampai dilihat mereka raksasa itu sedang terkangkang, matanya pecah sambil ia berteriak-teriak seperti halilintar membelah bumi bunyinya. Maka segala isi rimba itu pun ketakutanlah serta lari berhampiran dengan tiada berketahuan lagi jatuh rebah rempah sambil berteriak-teriak katanya, “Hantu jahanam apakah ini?” Ada yang berkata, “Aduh sakit kakiku.” Dalam sebentar sahaja segala isi rimba itu telah lenyap dari situ melainkan yang tinggal hanyalah Raja Singa dan Raja Harimau.
Kata Tuan Syeikh Alam di-Rimba kepada kedua-dua binatang itu, “Hai saudaraku, bunuhlah sekalian sekali raksasa itu.” Maka raksasa itupun berteriak-teriak seraya katanya. “Hai pelanduk, apakah dosaku kepadamu, maka engkau perdayakan aku.”
Apabila mendengar teriak raksasa itu dan setelah yakin di hati mereka bahawa raksasa itu tidak akan dapat melepaskan dirinya lagi maka sekalian isi rimba itu pun baliklah mendapatkan Tuan Syeikh Alam di-Rimba. Ada pun Sang Badak yang memang sangat marah kepada raksasa itu pun berkatalah, “Sekali ini baharu aku dapat peluang mengambil bela. Tahanlah olehmu, hai raksasa haram zadah.” Kemudian ditendang dan diterajangnya akan raksasa itu bersama-sama dengan binatang-binatang yang lain.
Maka raksasa itupun matilah diseksa oleh segala isi rimba itu. Kata Tuan Syeikh Alam di-Rimba, “Hai saudaraku sekalian, adakah lagi kawan raksasa ini atau tiada?”
Jawab seladang, “Ya tuanku, tiada lagi.”
Setelah itu maka Tuan Syeikh Alam di-Rimba pun berkata, “Hai tuan-tuan sekalian, baiklah kita berhenti barang tujuh hari di sini, kita mengambil ikan pada Sungai Tinam ini.”
Dalam tujuh hari itu Tuan Syeikh Alam di-Rimba pun pergilah mengambil ikan dan buah-buahan dan taruk kayu yang muda-muda. Sangatlah suka Tuan Syeikh Alam di-Rimba serta sekalian isi rimba itu bermain-main pada Sungai Tinam itu serta dengan makan dan minum. Sekalian isi rimba itu sangat memuji akan Tuan Syeikh Alam di-Rimba kerana gagah dan perkasa itu. Sedangkan raksasa besar panjang itu pun dapat dilawan dan ditangkapnya. Sesungguhnya tiadalah sekalian isi rimba itu dapat melawan gagah perkasanya Tuan Syeikh Alam di-Rimba itu. Setelah itu, maka Tuan Syeikh Alam pun bertitah kepada segala isi rimba itu katanya, “Baiklah, esok hari kita pulang.”
Maka sembah segala isi rimba itu, “Baiklah, tuanku, dan yang mana titah dan perintah adalah di bawah duli patik sekalian.” Setelah itu maka sekaliannya pun bermohonlah kembali ke tempat masing-masing. Demikianlah adanya.